23 Apr

Panah = Mapan ing manah

Kalau kita bicara kehidupan, tentu tidak lepas dari hiburan dan olahraga. Belakangan ini kembali muncul tren olahraga yang sebenarnya sudah ada dari jaman Rasulullah SAW atau bahkan jauh sebelum itu, ya, panahan. Menarik, dalam filosofi jawa, panah = mapan ing manah (adanya kemantapan dan ketenangan pada hati), ini artinya saat melakukan olahraga panahan, selain menggunakan kekuatan fisik (otot lengan, otot bahu, dan sebagainya) juga memerlukan ketenangan dan kemantapan hati agar bisa tetap fokus dan membidik sasaran dengan tepat.

Jenis-jenis Busur Panah
Pada perkembangannya, banyak sekali jenis busur panah yang dipakai di dunia, dengan karakteristik masing-masing. Tetapi secara umum, ada 3 jenis busur panah atau bow yang sering dipakai, yaitu traditional bow, recurve bow, dan compound bow.
1. Traditional Bow
Yang termasuk jenis ini ada longbow, horsebow, dan sebagainya. Biasanya bentuknya lebih sederhana dan menggunakan material dari alam seperti kayu, bambu, dll. Tetapi sekarang ini karena penggemar traditional bow lumayan banyak, hadirlah teknologi material laminasi untuk pembuatan horsebow, contoh yang sering dipakai adalah merk kaya windfighter atau blackshadow.

2. Recurve Bow
Karakteristik pada busur ini adalah “take down”, dimana terpisah antara bagian riser dan limbs, kemudian pada bagian ujung limbs ada lengkungan ke belakang dilanjutkan lengkungan sedikit ke depan. Pada recurve bow, mounting antara limbs terhadap riser menggunakan standar ILF (international limbs fit). Di Indonesia, ada versi “generik” dari busur recurve yang sering disebut busur standar nasional, dimana mounting antara limbs terhadap riser diikat manual menggunakan baut. Busur standar nasional ini tidak dilombakan di tingkat internasional, tetapi biasanya dilombakan di tingkat nasional untuk pemanah junior U-21 (usia di bawah 21 tahun).

3. Compound Bow
Karakteristik utama yang membedakan busur ini dari jenis busur yang lain adalah adanya penggunaan katrol (cam) pada sistem kerja busur, sehingga tarikan yang dirasakan pemanah ketika menggunakan busur ini adalah “berat di tarikan awal, ringan di posisi anchor (saat membidik)”.

Bagaimana menentukan arrow atau anak panah yang sesuai dengan busur yang kita gunakan?
1. Memilih busur
Pada dasarnya, setiap busur yang dipakai oleh pemanah memiliki spesifikasi masing-masing dan tentunya disesuaikan dengan karakteristik penggunanya itu sendiri. Misal recurve bow ukuran 70″-38lbs, artinya busur ini memiliki ukuran panjang 70 inch dan berat tarikan 38 pounds. Panjang busur biasanya menyesuaikan postur tubuh atau tinggi penggunanya, sedangkan berat tarikan tentu saja menyesuaikan kekuatan fisik dari pemanah itu sendiri, sampai beban berapa ia mampu menarik busur yang akan dia pilih untuk digunakan. Selain itu draw length (panjang tarikan, biasanya diukur dalam satuan inchi) dari pemanah juga akan berpengaruh terhadap pemilihan anak panah yang akan digunakan.
2. Memilih anak panah atau arrow
Secara umum, karakteristik dari anak panah akan ditentukan setidaknya oleh dua hal, yaitu material dan spine number. Beberapa material yang sering digunakan untuk membuat anak panah antara lain : kayu atau bambu, fiber, aluminium, karbon, dan alloy atau kombinasi material. Spine number sendiri adalah ukuran untuk menentukan kekakuan anak panah. Definisi spine number adalah defleksi atau lengkungan anak panah ketika bagian tengah diberi beban 1,94 pounds, diukur dalam satuan inchi, dan nilai defleksi tadi dikalikan 1000.

Pemilihan material anak panah akan menentukan tingkat keakuratan bidikan, dan tentu saja pemilihan material ini sangat ditentukan oleh keinginan serta dompet atau dana yang kamu miliki.
Dan poin yang sangat penting pada pemilihan anak panah yang digunakan, adalah penyesuaian spine number terhadap spesifikasi busur yang digunakan.

Contoh table penentuan spine number anak panah yang digunakan, berdasarkan www.blackeaglearrows.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *